Informasi Seputar Pertanian , Perkebunan, Peternakan dan Perikanan

Breaking

Minggu, 12 April 2020

Cara cepat budidaya ikan lele dengan hasil maksimal

Cara Budidaya Ikan Lele di Kolam Tembok dan Terpal Menguntungkan


Ikan lele adalah salah satu jenis ikan yang bisa hidup dengan kepadatan tinggi. Ikan ini memiliki tingkat konversi pakan yang baik untuk berat badan. Dengan karakteristik ini, budidaya ikan lele akan sangat menguntungkan jika dilakukan secara intensif.

Ada dua bagian untuk budidaya lele,yakni  pembenihan, dan pembesaran ikan lele. Sektor pembenihan bertujuan untuk menghasilkan benih ikan lele, sedangkan sektor pembesaran bertujuan untuk menghasilkan ikan lele yang siap dikonsumsi. Pada kesempatan ini, akan membahas tahap persiapan untuk pembesaran ikan lele.

Siapkan kolam untuk budidaya ikan lele

Ada berbagai jenis kolam yang dapat digunakan untuk pengembangbiakan ikan lele. Setiap jenis kolam memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri ketika melihatnya dari segi pertanian. Untuk menentukan kelompok yang tepat, harap pertimbangkan kondisi lingkungan, ketersediaan tenaga kerja dan sumber pembiayaan yang tersedia.

Jenis kolam yang umum digunakan dalam pembiakan ikan lele adalah kolam tanah, kolam semen, kompleks terpal, jaring apung dan keramba. Namun dalam artikel ini kita akan membahas kolam tanah, mengingat bahwa jenis kolam ini banyak digunakan oleh petani ikan. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Cara Membuat Tambak Ikan. Langkah-langkah yang harus diambil untuk menyiapkan kolam tanah adalah sebagai berikut:

A. Pengeringan dan persiapan lahan

Sebelum menanam benih ikan lele, kolam harus dikeringkan terlebih dahulu. Kekeringan panjang berkisar antara 3-7 hari atau tergantung pada teriknya matahari. Sebagai aturan, jika permukaan tanah retak, kolam dapat dianggap cukup kering.

Pengeringan kolam bertujuan untuk memecah keberadaan mikroorganisme jahat yang menyebabkan kuman. Mikroorganisme ini dapat berevolusi dari periode budidaya ikan lele sebelumnya. Dengan pengeringan dan penjemuran, sebagian besar mikroorganisme patogen mati.

Setelah kering, permukaan tanah digarap atau dibalik dengan sekop. Membajak tanah diperlukan untuk memperbaiki kelonggaran tanah dan menghilangkan gas beracun yang menumpuk di tanah.

Sehubungan dengan proses pembajakan, lepaskan lapisan tanah liat hitam di bagian bawah kolam. Bau tanah liat biasanya tidak sedap karena menyimpan gas beracun seperti amonia dan hidrogen sulfida. Gas terdiri dari tumpukan makanan yang tidak dimakan ikan.

B. Pengapuran dan pemupukan

Pengapuran menyeimbangkan keasaman kolam dan membantu menghilangkan mikroorganisme patogen. Jenis kapur yang digunakan adalah dolomit atau kapur tohor.

Pengapuran dilakukan dengan meratakan permukaan kolam secara merata. Setelah kapur terciprat, putar tanah agar kapur bisa bocor ke dalam. Dosis yang diperlukan untuk ukuran adalah 250-750 gram per meter persegi, atau tergantung pada pH tanah. Semakin asam tanah, semakin besar kebutuhan akan kapur.

Langkah selanjutnya adalah pemupukan. Gunakan campuran kompos plus urea dan TSP. Jenis kompos yang direkomendasikan adalah kompos atau pupuk kandang. Dosisnya 250-500 gram per meter persegi. Sedangkan pupuk kimia adalah urea dan TSP, setiap 15 gram dan 10 gram per meter persegi. Pemupukan bawah di dasar kolam bertujuan untuk memberikan nutrisi bagi tanaman air seperti fitoplankton dan cacing. Organisme hidup berguna untuk makanan lele alami.

C. Mengatur air kolam
Permukaan air yang ideal untuk menanam ikan lele adalah 100-120 cm. Kolam diisi secara bertahap. Setelah pemupukan kolam, isi dengan air hingga 30-40 cm. Biarkan kolam terkena sinar matahari selama seminggu.

Dengan kedalaman ini, sinar matahari masih bisa menembus bagian bawah kolam dan memungkinkan tanaman di bagian bawah kolam seperti plankton tumbuh dengan baik. Air kolam dipenuhi dengan fitoplankton hijau.

Setelah seminggu, benih lele siap untuk ditebar. Apalagi air tambak atau kolam ditambahkan secara berkala sesuai pertumbuhan lele sampai ketinggian ideal

Pilih bibit lele

Tingkat keberhasilan pengembangbiakan ikan lele sangat ditentukan oleh kualitas benih yang ditebar. Ada beberapa jenis ikan lele yang biasa dibudidayakan di Indonesia.

Kami merekomendasikan ikan lele Sangkuriang yang dikembangkan oleh BBPBAT Sukabumi. Lele Sangkuriang merupakan hasil perbaikan dari lele dumbo. BBPBAT mengembangkan ikan lele sangkuriang karena kualitas lele dumbo yang saat ini beredar di masyarakat semakin menurun.

Kita bisa mendapatkan benih ikan lele dengan membeli atau menetaskan sendiri ikan lele tersebut.

A. Persyaratan benih unggul

 Cara Budidaya Ikan Lele Dengan Angka Kematian Hanya 0,1%





Benih yang ditebar harus benar-benar sehat. Sifat benih yang sehat adalah gerakan lincah, tidak ada cacat atau luka di permukaan tubuh, bebas dari kuman dan gerakan berenang yang normal. Untuk menguji pergerakannya, masukkan ikan ke dalam aliran air. Jika ikan menentang arah aliran air dan dapat bertahan hidup, ini berarti bahwa gerakan berenangnya bagus.

Benih lele biasanya panjangnya sekitar 5-7 cm. Jaga volume agar ikan dapat tumbuh dan berkembang secara bersamaan. Dari biji ukuran ini, dalam masa pemeliharaan 2,5-3,5 bulan volume lele akan mendapat 9-12 ekor per kg.

B. Cara menebar benih

Sebelum menyimpan benih, lakukan perubahan iklim terlebih dahulu. Caranya, masukkan benih dengan wadah (bisa ember / jerigen) ke dalam kolam. Biarkan selama 15 menit agar suhu kolam benih terjadi dengan suhu kolam sebagai lingkungan baru. Miringkan wadah dan biarkan benihnya keluar sendiri. Metode ini berguna untuk mencegah tekanan pada benih.

Taburkan benih lele di kolam dengan kepadatan 200-400 ekor per meter persegi. Semakin baik kualitas air kolam, semakin banyak benih yang bisa dikumpulkan. Ketinggian air sebaiknya tidak lebih dari 40 cm saat menabur benih. Ini memastikan bahwa benih ikan mencapai permukaan air untuk makanan atau bernafas. Tambalan kolam berikut disesuaikan dengan ukuran tubuh ikan untuk mencapai ketinggian air yang ideal.

Tentukan kapasitas kolam

 Berikut cara menghitung kapasitas tambak untuk pembibitan ikan lele intensif. Dengan asumsi kedalaman kolam adalah 1-1,5 meter (kedalaman yang disarankan). Maka kepadatan penyimpanan yang disarankan untuk bibit ikan lele adalah 200-400 per meter persegi. Misalnya, untuk kolam berukuran 3 x 4 meter, jumlah minimum benih ikan (3 x 4) x 200 = 2.400 ikan, hingga maksimum (3 x 4) x 400 = 4.800 ikan.

       Catatan: Kolam air tanah kurang dari kolam dinding.

Pakan lele
 
Pakan adalah komponen biaya terbesar dari pembiakan ikan lele. Ada banyak merek dan jenis pakan di pasaran. Pakan lele yang baik adalah pakan yang memiliki FCR kurang dari satu. FCR adalah rasio jumlah pakan berbanding pertumbuhan daging. Semakin kecil nilai FCR, semakin baik kualitas pakan.

Untuk hasil maksimal dengan biaya minimal, gunakan pakan utama dan tambahan yang seimbang. Jika pakan pabrik terlihat mahal, silakan coba menyiapkan pakan lele alternatif Anda.

A. Pemberian pakan utama
Sebagai ikan karnivora, pakan ikan lele harus mengandung banyak protein hewani. Secara umum, kandungan nutrisi yang dibutuhkan untuk ikan lele adalah protein (setidaknya 30%), lemak (4-16%), karbohidrat (15-20%), vitamin, dan mineral.

Berbagai pelet yang dijual di pasaran dilengkapi rata-rata dengan informasi tentang kandungan nutrisi.Tinggal pandainya saja kita untuk memilih mana yang bisa dipercaya. Ingat, jangan membeli pakan kedaluwarsa.

Pakan harus diberikan sesuai kebutuhan. Secara umum, lele setiap hari membutuhkan 3-6% dari berat tubuhnya. Misalnya, ikan lele seberat 50 gram membutuhkan 2,5 gram pakan (5% dari berat badan) untuk setiap ekor. Kemudian sampel diambil setiap 10 hari, kemudian timbang dan sesuaikan jumlah pemberian yang diberikan kembali. Dua minggu sebelum panen, nutrisi dikurangi menjadi 3% dari berat badan.

Jadwal makan harus disesuaikan dengan selera ikan. Frekuensi 4-5 kali sehari. Frekuensi memberi makan ikan kecil harus lebih sering.Waktupemberian pakan adalah di pagi, siang dan sore hari dan malam hari.

Jadwal makan harus disesuaikan dengan selera ikan. Frekuensi 4-5 kali sehari. Frekuensi memberi makan ikan kecil harus lebih sering. Saat menyusui adalah di pagi, siang dan sore hari dan malam hari.

Ikan lele adalah hewan nokturnal, yang aktif di malam hari. Pertimbangkan untuk menyajikan lebih banyak makanan di sore dan malam hari. Pemberi pakan harus tetap memperhatikan reaksi ikan. Berikan pakan saat ikan lele agresif memakan pakan, dan berhentilah saat ikan tampak malas makan.

B. Pemberian makanan tambahan

Selain pakan utama, itu juga dapat dipertimbangkan untuk memberikan nutrisi tambahan. Memberikan makanan tambahan sangat bermanfaat dalam menghemat biaya makanan yang menguras kantong.

Jika kolam dekat dengan pelelangan ikan, maka kita dapat mempertimbangkan untuk memberikan ikan rucah segar. Ikan rucah adalah ikan yang ditangkap dari laut yang tidak sesuai untuk konsumsi manusia karena ukurannya atau cacat dalam penangkapan ikan. Itu juga bisa membuat larva dari campuran ampas tahu.

Keong emas dan limbah ayam bisa diberikan dengan mengolahnya terlebih dahulu. Perawatan bisa direbus. Kemudian pisahkan daging keong emas dari cangkang dan kemudian cincang. Untuk limbah ayam, bersihkan bulu-bulunya sebelum memberi makan kepada ikan lele.

Satu hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan pakan ikan lele, jangan menunda atau kekurangan. Karena ikan lele memiliki sifat karnivora,memangsa sejenianya. Jika ada kekurangan makanan, ikan besar akan memangsa ikan kecil.

Pengelolaan air

Hal penting lainnya dalam memelihara ikan lele adalah pengelolaan air tambak. Untuk hasil maksimal, kualitas dan kuantitas air harus dipertahankan.

Pantau kualitas air dari tumpukan pakan ternak yang tidak dihabiskan di dasar kolam. Tumpukan menyebabkan gas amonia atau hidrogen sulfida, yang memiliki bau tidak sedap.

Saat bau tidak sedap muncul, angkat sepertiga bagian bawah air. Kemudian isi lagi dengan air baru. Frekuensi pembuangan air sangat tergantung pada kebiasaan makan. Jika nutrisi menyebabkan banyak sisa makanan, perubahan air akan sering dilakukan.

Pengendalian hama dan penyakit

Hama yang paling umum dalam pembiakan ikan lele adalah hama pemangsa seperti linsang, ular, sero, musang air dan burung. Padahal, hama yang menjadi kompetitif termasuk nila. Untuk mencegah hal ini, filter dipasang di saluran masuk dan keluar air atau pagar ditempatkan di sekitar kolam.

Penyakit pengembangbiakan ikan lele dapat berasal dari protozoa, bakteri, dan virus. Ketiga mikroorganisme ini menyebabkan banyak penyakit mematikan. Beberapa adalah bintik-bintik putih, perut bengkak, dan luka di kepala dan ekor.

Untuk mencegah timbulnya penyakit menular adalah dengan menjaga kualitas air, mengontrol pemberian makan, menjaga kebersihan kolam, dan menjaga suhu kolam di kisaran 28 ° C. Selain penyakit menular, ikan lele juga dapat menyerang penyakit tidak menular seperti penyakit kuning, kekurangan vitamin, dan lainnya.

Panen ikan lele

Ikan lele dapat dipanen setelah mencapai ukuran 9-12 ekor per kg. Ukuran ini dapat dicapai dalam 2,5-3,5 bulan dari ukuran 5-7 cm. Tidak seperti konsumsi domestik, ikan lele untuk tujuan ekspor biasanya berjumlah 500 gram per ikan.

Satu hari (24 jam) sebelum panen, lele tidak boleh diberi makan sehingga mereka tidak buang air besar saat diangkut. Saat lele dipanen, sortir dengan menyortir lele sesuai ukurannya. Pemisahan volume berpengaruh pada harga. Diurutkan berdasarkan ukuran ikan lele akan meningkatkan pendapatan petani.

cukup sekian sedikit penjelasan dari  cara budidaya ikan lele semoga bermanfaat...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar